Bendera Sulawesi Utara

Provinsi Sulawesi Utara terletak di ujung Pulau Sulawesi, dan berbatasan dengan Negara Filipina di sebelah utara. Ibu kota Sulawesi Utaraadalah Manado.

Pemerintahan

Kabupaten dan Kota

No. Kabupaten/Kota Ibu kota
1 Kabupaten Bolaang Mongondow Kotamobagu
2 Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan Bolaang Uki
3 Kabupaten Bolaang Mongondow Timur Tutuyan
4 Kabupaten Bolaang Mongondow Utara Boroko
5 Kabupaten Kepulauan Sangihe Tahuna
6 Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro Ondong Siau
7 Kabupaten Kepulauan Talaud Melonguane
8 Kabupaten Minahasa Tondano
9 Kabupaten Minahasa Selatan Amurang
10 Kabupaten Minahasa Tenggara Ratahan
11 Kabupaten Minahasa Utara Airmadidi
12 Kota Bitung
13 Kota Kotamobagu
14 Kota Manado
15 Kota Tomohon

 

Media massa

Media Online

Media Cetak

Siaran Televisi Lokal

Makanan Khas

Makanan khas Sulawesi Utara yang paling populer adalah Tinutuan atau Midal (bubur Manado). Di daerah Minahasa terdapat makanan khas yang jarang ditemui di daerah lainnya di Indonesia, seperti rintek wuuk (biasa disebut RW) atau daging anjing, daging ular dan paniki (daging kelelawar). Makanan khas lainnya seperti woku blanga dan cakalang fufu sering ditemui di daerah pesisir.

Wisata Di Sulawesi Utara

1. Taman Nasional Bunaken

Taman Nasional Bunaken ditetapkan oleh Pemerintah dan diresmikan oleh Presiden Republik Indonesia pada tanggal 24 Desember 1991 dan merupakan kawasan konservasi perairan dengan luas 79.065 ha yang terdiri dari dua bagian terpisah yaitu bagian Utara meliputi lima pulau masing-masing Pulau Bunaken, Siladen, Manado Tua, Mantehage dan Pulau Nain, serta wilayah pesisir Desa Molas, Desa Meras, Tongkaina dan Tiwoho. Bagian selatan meliputi pesisir desa-desa yaitu Desa Popo, Teling, Kumu, Pinasungkulan, Rap-rap, Sondaken, Wawontulap dan Poperang. Taman Nasional Bunaken yang merupakan kawasan konservasi ini memiliki keanekaragaman hayati pesisir dan laut yang sangat tinggi dan terdapat tiga ekosistem utama perairan tropis Indonesia, yaitu : Terumbu Karang, Hutan Bakau dan Padang Lamun. Objek wisata ini dapat ditempuh ±25 menit dari Pelabuhan Manado dengan menggunakan kapal boat atau Blue Banter.

2. Taman Purbakala Sawangan

“Waruga” kuburan batu (sarcophagus) dari nenek moyang orang Minahasa, sejak jaman Megalitikum. Kuburan-kuburan batu yang dibangun berisi badan (tubuh) dalam posisi duduk dan memiliki nilai filosofi. Pra Kristen percaya bahwa bayi yang lahir dalam posisi duduk dalam kandungan ibu, dan posisi duduk ini ia harus abadi. Diatas kuburan itu ada batu yang berbentuk kepala, menggambarkan hobi, sifat atau pekerjaan, wanita yang melahirkan, pemburu-pemburu, anak-anak dan lain-lain. Berlokasi di Desa Sawangan, daerah Airmadidi 24 Km dari Kota Manado dapat dicapai dengan transportasi umum (± 30 menit). Waruga di Minahasa dapat ditemukan di beberapa tempat seperti Airmadidi, Tomohon dan Tara-Tara.

3. Bukit Kasih

Terletak di areal desa Kanonang, Kawangkoan. Bukit Kasih adalah salah satu cara untuk menghargai Tuhan melalui ciptaan-Nya. Bukit Kasih adalah pusat spiritual dimana penganut agama dari berbagai kepercayaan berkumpul, bermeditasi, dan beribadah, terletak di pangkuan perbukitan tropis yang subur dan berkabut. Berlokasi 55 kilometer dari kota Manado, Bukit Kasih menyambut wisatawan lokal dan mancanegara untuk beribadah sesuai kepercayaan mereka, Muslim, Kristen, Hindu, Budha atau kepercayaan lainnya. Satu-satunya tempat di dunia ini untuk semua orang yang mencari kedamaian  dan  kebenaran   spiritual.
Keterbukaan, keheningan, batu tinggi yang tidak tersentuh, dan alam yang indah. Diselimuti oleh tumbuhan hijau dan tumbuhan tropis, merupakan perjanjian tangan Allah yang sejati. Monumen ini didirikan untuk menunjukkan prinsip dasar timbal – balik, kasih dan cinta diantara para penganut kepercayaan yang ada di Sulawesi Utara. Berdasarkan legenda dari suku Minahasa, Bukit Kasih adalah tempat meninggalnya nenek moyang Minahasa : Toar dan Lumimuut. Tempat wisata ini dapat ditempuh ± 1 jam dari Kota Manado dengan sarana darat.

4. Danau Tondano

Danau indah dengan keliling daerah pegunungan yang rata-rata mempunyai ketinggian 700 M sehingga bentuknya menyerupai sarang burung, dimana banyak orang datang untuk berwisata menikmati udara pegunungan yang sejuk. Ditengah danau terdapat sebuah pulau kecil yang dinamakan Pulau Likri. Banyak desa mengelilingi danau ini seperti Eris, Kakas dan Remboken. Keindahannya dapat dinikmati setiap hari. Objek wisata ini dapat ditempuh ± 30 menit dari Kota Manado dengan sarana darat.

5. Rumah Tradisional Adat Minahasa

Disebut dengan istilah wale atau bale, yaitu rumah/ tempat melakukan akivitas untuk hidup keluarga. Adapula “sabuwa” yaitu rumah kecil untuk tempat beristirahat, berlindung sewaktu hujan, memasak ataupun tempat menyimpan hasil panen sebelum dijual. Ciri utama rumah tradisional ini berupa “Rumah Panggung” dengan 16 sampai 18 tiang penyangga. Beberapa abad lalu terdapat rumah tradisional keluarga  besar  yang  didiami  oleh   6  sampai  9 keluarga. Masing-masing keluarga merupakan rumah tangga tersendiri dan mempunyai dapur atau mengurus ekonomi rumah tangga sendiri. Saat ini jarang ditemui rumah adat besar seperti ini. Pada umumnya susunan rumah terdiri atas emperan (setup), ruang tamu (leloangan), ruang tengah (pores) dan kamar-kamar. Ruang paling depan (setup) berfungsi untuk menerima tamu terutama bila diadakan upacara keluarga, juga tempat makan tamu. Bagian belakang rumah terdapat balai-balai yang berfungsi sebagai tempat menyimpan alat dapur dan alat makan, serta tempat mencuci. Bagian atas rumah/loteng (soldor) berfungsi sebagai tempat menyimpan hasil panen seperti jagung, padi dan hasil  lainnya. Bagian bawah rumah (kolong) biasanya digunakan untuk gudang tempat menyimpan papan, balok, kayu, alat pertanian, gerobak dan hewan rumah seperti anjing. Untuk melihat rumah tradisional adat Minahasa ini, dapat ditemukan pada desa-desa di Minahasa yang umumnya sebagian rumah masih berupa rumah panggung tradisional. Akan tetapi kebanyakan telah mengalami perubahan bentuk, sesuai dengan kebutuhan pemiliknya.

6. Makam Pahlawan Tuanku Imam Bonjol

Imam Bonjol dengan nama asli Peto Syarif, dilahirkan pada tahun 1772 di kampung Tanjung Bunga, Alahan Panjang, Pasaman, Minangkabau. Selesai menuntut pelajaran di kota Tuo, Aceh dan Kamang tahun 1807, Peto Syarif mendirikan benteng, alahan panjang yang digunakan sebagai pusat kegiatan “Gerakan Padri”. Benteng ini yang terkuat di Minangkabau, sehingga dapat bertahan dari kepungan Belanda selama 15 tahun. Perang Padri mulai terjadi tahun 1821 antara Belanda (Hindia Belanda) dengan laskar Padri yang dipimpin Tuanku Imam Bonjol. Tahun 1824 Belanda telah menguasai Luhuk Agam, Tanah Datar, dan lima puluh kota yang semakin melebar hingga tahaun 1332 hampir menguasai seluruh Minangkabau, kecuali Bonjol.

Perlawanan Tuanku Imam Bonjol demikian gigih, sehingga pimpinan tertinggi Hindia Belanda pada saat itu, Van Den Bosch tahun 1833 langsung memimpin pertempuran. Bonjol dapat ditaklukkan Belanda pada 16 Agustus 1837, namun Tuanku Imam Bonjol bersama pengikutnya dapat meloloskan diri dan melanjutkan perlawanan.  Pada usia 65 tahun, tepatnya  tanggal  28  Oktober 1838, Tuanku Imam Bonjol diundang pihak Belanda untuk berunding di Palupuh. Rupanya perundingan tersebut hanyalah tipu daya (perangkap), karena beliau langsung ditangkap dan dipenjara di Bukit Tinggi. Untuk menghindari penyerangan, Belanda memindahkan tempat pengasingan beliau ke Padang Cianjur, Ambon dan terakhir ke Manado pada tanggal 19  Januari 1839.
Ditempat pengasingannya, di desa Lotak di pinggiran selatan Manado (kini dalam wilayah kecamatan Pineleng) Kabupaten Minahasa, Tuanku Imam Bonjol wafat dalam usia 92 tahun. Upacara pemakaman beliau mendapat perhatian besar dari masyarakat dan pembesar Hindia Belanda setempat. Hal ini menunjukkan bahwa pemerintah Hindia Belanda tetap menghormati beliau sebagai salah seorang pemimpin/pejuang besar.

7. Makam Pahlawan Kyai Modjo

Kyai Modjo adalah kawan seperjuangan Pangeran Diponegoro dan seorang panglima perang sekaligus Kepala Agama (Kyai) dalam perang Diponegoro (1825-1830). Selama  perang  tersebut berkali-kali Kyai Modjo dibujuk Hindia Belanda untuk berdamai dengan imbalan kedudukan dan jabatan. Namun hal ini di tolak beliau karena tekadnya untuk mengusir Belanda dari bumi Nusantara.
Tahun 1828 Belanda berhasil menawan Kyai Modjo, melalui tipu muslihat. Dan setahun kemudian (1829), beserta 62 orang pengikutnya (semua laki-laki) diasingkan dari Batavia ke Tondano, Kabupaten Minahasa. Dalam usia sekitar 75 tahun, tepatnya bulan Nopember 1848, Kyai Modjo wafat. Beliau dimakamkan di desa Woloan Kecamatan Tondano yang terletak diatas bukit, berjarak kira-kira 1 km dari abatas kota Tondano, ibukota Kabupaten Minahasa.

Peninggalan Kyai Modjo dan para pengikutnya adalah adanya perkampungan Jawa sampai sekarang yang dikenal dengan kampung Jawa Tondano (Jaton). Masyarakatnya merupakan asimilasi antara wanita Minahasa anak suku Tondano dengan para pengikut Kyai Modjo yang ikut diasingkan. Sekitar tahun 1923 Pemerintah Belanda memindahkan sebagian penduduk Kampung Jawa Tondano ke Gorontalo, sehingga saat ini di Kabupaten Gorontalo terdapat perkampungan Jawa asal Minahasa (Jawa Tondano). Perkampungan tersebut telah berkembang menjadi kampung Reksonegoro dan kampung Yosonegoro.

8. Klenteng Ban Hin Kiong

Tempat ini merupakan kelenteng pusat bagi umat Budha untuk beribadah. Bila anda sedang berada di Manado dua minggu setelah bulan kamariah, maka anda akan menyaksikan parade tradisional Cina yang menampilkan berbagai macam atraksi. Kelenteng Ban Hin Kiong terletak di Jl. Panjaitan Manado.

9.  Gua Jepang

Bukit gua sepanjang jalan antara Kiawa dan Kawangkoan di sebuah Desa kira-kira 45 Km dari Manado. Gua ini dibangun oleh Jepang selama perang dunia kedua yang digunakan sebagai tempat penyimpanan bahan makanan.

10. Tarsius Spectra (Ingkir)

Tarsius atau dalam bahasa Indonesia disebut Ingkir adalah salah satu satwa langka yang saat ini dilindungi. Bentuknya mirip dengan kera, tetapi  dengan ukuran tubuh yang jauh lebih kecil, lebih kurang 10 cm atau sekepalan tangan  manusia. Panjang ekornya sekitar 20 cm dan berat Tarsius dewasa sekitar 300 gram. Binatang ini termasuk mamalia primata dan tergolong binatang malam, yang keluar pada senja hari. Karena itu Tarsius  memiliki sepasang mata berukuran agak besar, seperti burung hantu. Penglihatan binatang ini sangat tajam dan matanya dapat mengincar mangsa dalam gelap. Penciuman tarsius berdaya lemah, akan tetapi diimbangi oleh pendengarannya yang cukup baik. Selain itu lehernya lentur sekali dan dapat berputar 180 derajat. Dalam menangkap mangsa tarsius dapat melompat dengan gerakan akrobatik setinggi 5 meter. Cengkeramannya sangat kuat dan gigi-giginya tajam bagai pisau cukur sehingga dapat merobek mangsa di udara. Sifat satwa ini monogamis (berpasangan tetap). Biasanya menetap pada lubang yang dibuat di batang pohon yang tinggi dan dihuni oleh sepasang “suami istri” Tarsius bersama anak-anaknya. Setahun sekali Tarsius betina hamil selama enam bulan dan melahirkan bayi yang beratnya sekitar 100 gram. Menurut laporan Prof. J.H. Van Balen, pada awal abad ini satwa sejenis Tarsius juga ditemukan di Kalimantan, Bengkulu, Bangka Dan Belitung. Sedangkan di Sulawesi Utara saat ini Tarsius dapat dijumpai di cagar alam Tangkoko (Bitung) Dan taman Nasional Wallace Dumoga (Bolaang Mongondow). Ditempat tersebut Tarsius diusahakan ditangkarkan dalam habitat aslinya dalam usaha meningkatkan populasinya. Binatang mamalia ini dapat ditemui dalam waktu ± 1 jam dari Kota Manado.

11. Gunung Lokon dan Mahawu

Kedua gunung ini masing-masing Lokon mempunyai ketinggian 1.580 m dan Mahawu mempunyai 1.311 m. keduanya mempunyai danau kawah yang amat indah. Diantara keduanya Lokon yang lebih indah. Pendakian ke puncak dilakukan oleh pendaki dalam kondisi yang layak. Letak kawah panas 600 m dari puncak gunung dan danau kawah 60 m dalamnya. Waktu yang paling baik perjalanan pendakian mulai dari Kakaskasen pukul 07.00 pagi dan hal ini memungkunkan melakukan perjalanan ke kawah saat pagi hari dalam cuaca yang masih dingin dan sejuk

12. Gunung Klabat

Gunung tertinggi yang ada di Sulawesi Utara (2,020 meter), dapat didaki dalam waktu 5-6 jam untuk sampai ke puncak dari jalan setapak dekat Polsek Airmadidi. Saat terbaik untuk mendakinya adalah pada saat bulan purnama, sembari menunggu matahari terbit di pagi hari. Anda akan melihat pemandangan danau Tondano yang berada di daerah Minahasa.